Layanan Terlengkap dan Modern

Untuk meningkatkaan kualitas dan layanan, Perpustakaan IT Telkom menyediakan layanan terlengkap dan modern, antara lain : layanan katalog, jurnal, layanan ICT, layanan karya ilmiah, layanan sirkulasi, dan cafetaria


Read More...

Koleksi Jurnal Online Internasional

Perpustakaan IT Telkom memiliki layanan untuk mengakses Jurnal Internasional yang terdiri atas IEEE, GALE Cangage Learning, ProQuest, Emerald, Springer, EBSCO Host, dan The Wall Street Journal. Fasilitas tersebut memiliki tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan untuk menuju World Class University


Read More...

Perpustakaan Institut Teknologi Telkom

Perkembangan dunia teknologi informasi dan telekomunikasi yang sangan pesat berpengaruh terhadap berbagai bidang, termasuk bidang perpustakaan. UPT Perpustakaan Institut Teknologi Telkom merupakan salah satu saran penunjang dalam menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi. UPT Perpustakaan mempunyai kekhususan dalam hal penyedia informasi yang berkaitan dengan Teknologi Informasi dan Pertelekomunikasian. Hal ini sesuai tujuan IT Telkom untuk menghasilkan tenaga-tenaga profesional dan terampil dalam bidang Informasi dan Telekomunikasi ...


Read More...
012

Jurnal Online

Digital LIbrary ITTelkom dilengkapi dengan Jurnal ICT dengan koleksidari berbagai Lembaga Jurnal Internasional

Karya Ilmiah

Digital LIbrary ITTelkom memiliki koleksi lengkap Karya Ilmiah yang dihasilkan dari penelitian Mahasiswa dan Dosen

Katalog Online

Katalog Digital Library ITTelkom terdiri atas berbagai macam buku, diktat dan media digital yang dikemas dalam media.

login

Link

Advertise
 
Advertise
 
Advertise


Amazing Kartini! (2)

  • PDF
Kartini Pribadi yang (Ingin) Merdeka?: Amazing Kartini! (2) Oleh Hernowo "Ya, Tuhan, terima kasih! Tuhan, terima kasih! Aku bisakeluar dari penjara sebagai seorang yang bebas." —Kartini Kartini, secara fisik, mungkin tak bisa bebas. Dia, karena perempuan, dibatasi oleh semacam “tatakrama” pada masa dia hidup. Salah satunya, sebagaimana kita sama-sama mengetahuinya, dia harus mengalami "pingitan" (dikurung di dalam rumah ketika usianya menjelang remaja tanpa boleh berhubungan dengan dunia luar sampai ada seorang pria yang melamarnya). Namun, secara nonfisik, Kartini adalah manusia merdeka. Dia dapat mengembarakan pikirannya ke mana saja sesuai keinginannya. Adakah yang dapat membatasi atau mengerangkeng pikiran? Kemerdekaan Kartini ditunjukkannya lewat kata-kata yang saya kutip untuk mengawali tulisan ini. Kata-kata itu tercantum di dalam surat pertama Kartini yang dikirimkan kepada gadis Belanda yang dia kenal lewat iklan di majalah De Hollandsche Lelie. Setelah empat tahun terkurung sendirian di balik tembok tebal sebagai gadis pingitan, kata-kata tersebut dapat menunjukkan pribadi Kartini yang tak mau diam dan hanya pasrah dengan keadaan. “Otak Kartini terus mempertanyakan mengapa begitu rendah kedudukan wanita di tanah kelahirannya. Begitu pula soal beraneka tradisi feodal lainnya,” tulis Tempo. Kartini, tampaknya, memang pribadi yang memiliki jiwa gelisah dan rasa ingin tahu yang besar. Salah satu yang dapat menunjukkan pribadi-gelisah dan rasa ingin tahu Kartini adalah keinginannya untuk mendapatkan sahabat pena lewat iklan. Lewat iklan? Ya. Dikabarkan bahwa Kartini mengirim surat kepada Johanna van Woude (nama pena Sophie Margaretha Cornelia van Eermeskerken), pengasuh majalah DeHollandsche Lelie dan salah satu perempuan pertama yang jadi anggota Masyarakat Sastra Belanda. Surat itu berisi permintaan Kartini agar dia dicarikan sahabat pena lewat iklan. Iklan kecil itu akhirnya terbit di majalah De Hollandsche Lelie edisi 15 Maret 1899. “Raden Ajeng Kartini, putri Bupati Jepara, umur sekian dan seterusnya, ingin berkenalan dengan seorang ‘teman pena wanita’ untuk saling surat-menyurat. Yang dicari ialah seorang gadis dari Belanda yang umurnya sebaya dengan dia dan mempunyai banyak perhatian terhadap zaman modern serta perubahan-perubahan demokrasi yang sedang berkembang di seluruh Eropa,” demikian bunyi iklan itu seperti dikutip Siti-Soemandari Soeroto dalam Kartini: Sebuah Biografi. Sekali lagi, ada seorang gadis berusia 20 tahun, sekitar 130 tahun lalu, berinisiatif mencari sahabat pena dengan beriklan? Dan sahabat pena yang dicari si gadis adalah sahabat pena yang mau bertukar pikiran tentang perubahan? Apa gerangan yang mendorong Kartini untuk bertukar pikiran secara tertulis? Akhirnya yang dicari Kartini pun muncul. Kartini memanggilnya Stella. Nama lengkapnya Estelle Zeehandelaar, aktivis feminis yang lima tahun lebih tua daripada Kartini. Stella menjawab iklan Kartini dan dimulailah kemudian korespondensi antara keduanya. Krespondensi antara dua gadis berpikiran majudari dua bangsa berbeda yang belum pernah bertemu seumur hidup? Surat pertama Kartini kepada Stella bertitimangsa 25 Mei1899. “Surat-surat Kartini bernada intim dan menunjukkan dialog yang intens tentang berbagai topik, seperti buku yang dibacanya dan tulisannya di berbagai media. Dia juga membahas tradisi perjodohan, poligami, opium, agama, bahasa Belanda sebagai pembuka pintu pengetahuan, nasib perempuan Jawa yang tertindas, kebijakan politik kolonial yang merugikan pribumi, keinginannya mendirikan sekolah, dan rencananya bersekolah di negeri kelahiran pelukis Rembrandt itu,” papar Tempo. Apakah dorongan menulis yang ada di dalam diri Kartini memang dikarenakan keinginannya untuk bebas atau ada hal lain? Dikabarkan pula bahwa selain tulisan berupa surat-menyurat itu, Kartini juga menulis sebuah artikel ilmiah. Artikel tersebut berjudul “Het Huwelijk bij de Kodja’s” yang menceritakan upacara perkawinan suku Koja di Jepara. Artikel ini dimuat dalam Bijdragen tot de Taal-Land-en Volkenkundevan Ned-Indie pada 1898. Menurut Didi, artikel ini merupakan karya tulis yang luar biasa. Didi bahkan menyebutnya sebagai karya ilmiah. Dan “Kartini menjadi sangat terkenal karena kefasihannya dan kemahirannya menulis dalam bahasa Belanda,” tulis Tempo. “Tulisan Kartini yang tajam dan jernih mengguncang Amsterdam ketika diterbitkan pertama kali pada tahun 1911 dalam buku Door Duisternis Tot Licht (HabisGelap Terbitlah Terang) oleh Jacques Henrij Abendanon, direktur di Departemen Pendidikan, Agama, dan Industri Hindia Belanda dan tokoh EthischeKoers (Politik Etis). Buku itu laris dan dicetak berkali-kali. Koran-koran di Hindia Belanda dan Negara Belanda banyak memuat iklan yang menawarkankan buku itu seharga 4,75 gulden,” tambah Tempo. Sekali lagi, kenapa Kartini suka dan mampu menulis?[]

Amazing Kartini !

  • PDF
Amazing Kartini! Oleh Hernowo "Panggil aku Kartini saja, itu namaku. Kami orang Jawa tidak punya nama keluarga.Kartini adalah sekaligus nama keluarga dan nama kecilku." —Kartini (surat bertanggal 25 Mei 1899) Saya sudah membaca beberapa buku tentang Kartini. Pahlawan nasional yang belum lamadiperingati hari kelahirannya ini dijadikan tema majalah Tempo edisi 22-28 April 2013. Sungguh,ketika membaca (mencermati dengan saksama) edisi majalah Tempo tentang Kartini, saya merasakan adayang baru dan berbeda serta—mohon maaf...lebay—menakjubkan. Dengan gesitdan cerdas, Tempo menunjukkansisi-sisi kontroversial Kartini namun hal itu malah membuat sosok Kartinitampil lebih "hidup" dan digdaya. Pikiran-pikiran Kartini, khususnya,masih mampu menembus sekat-sekat era cyberspace danrelevan dengan zaman yang sudah sangat berbeda dengan zaman ketika Kartinihidup. Mungkinsaja Kartini menjadi demikian karena dia meninggalkan warisan berwujud tulisan.Meskipun tulisan Kartini hanya berupa surat-surat yang dikirimkan kepadasahabat penanya di Belanda, surat-surat tersebut ternyata berhasil (dengan baikdan tertata) merekam pemberontakan, penderitaan, dan keinginan Kartini agarkaumnya maju, mandiri, serta terbebas dari "kerangkeng" buatanmanusia. Ada dua hal menarik tentang ini. Hal menarik pertama berasal dariSaparinah Sadli yang, bersama Haryati Soebadio, menulis buku Kartini Pribadi Mandiri.Menurut Tempo, berpijakpada pendapat Saparinah Sadli, "...Kartini istimewa karena kritis danmengangkat isu sosial. Ini yang membedakannya dengan pahlawan lain." Lebihtegas lagi ditunjukkan bahwa Kartini berbeda karena "ia meninggalkantulisan." Halmenarik kedua datang dari seorang peneliti Kartini bernama Didi Kwartanada. Didiadalah sejarawan dari Yayasan Nabil, Jakarta. Didi mengaku jatuh cinta kepadaKartini sejak 2008. Di yayasan yang berupaya meneguhkan pluralisme danmultikulturalisme itu, Didi menelaah berbagai literatur yang membahas Kartini."Kartini adalah prototipe manusia Indonesia baru," kata Didi. Entahapa yang dimaksud dengan "manusia Indonesia baru". Mungkin saja,menurut saya, Kartini memang memiliki visi. Pandangannya sangat jauh ke depandan saya kaget karena itu dimiliki oleh seorang perempuan yang masih muda,mengalami masa “pengerangkengan” (pingitan) pada usia sekitar 12 tahun lebih,dan hidup di tengah cengkeraman alam feodal. “Kartinipeka menyongsong masa depan, (sementara) yang lain masih terkukung dantersandera keadaan,” tambah Aristides Katoppo, editor buku Satu Abad Kartini, sebagaimanadikutip Tempo dalam laporannya yang berjudul, “DiaMinta Dipanggil Kartini Saja”. Ketika saya menemukan kata-kataAristides Katoppotersebut, saya pun spontan berteriak keras, “Amazing!”, seraya membayangkansosok sutradara AmazingSpiderman, Marc Webb. Webb berhasil menunjukkan kedigdayaan Peter Parker(Andrew Garfield) bukan semata pada “otot kawat, balung wesi” yang dimilikiSpiderman tetapi pada kelembutannya dalam memadu kasih dengan Gwen Stacy (EmmaStone). Adegan percintaan Andrew dan Emma dalam film tersebut, ditangan Webb, menurut saya amazing! Demikianlahjuga Kartini. Perempuan yang mati muda ini menunjukkan kedigdayaannya bukanpada sosoknya tetapi pikirannya. Di balik sosok yang mungkin rapuh, lemah, danterpinggirkan ternyata ada semacam kekuatan yang dahsyat. Kekuatan dahsyat ituditunjukkan oleh Kartini lewat surat-suratnya. Surat-surat itu, yang ditulisdalam bahasa Belanda, saya duga masih akan terus mengguncang (siapa saja yangmembacanya) dan bertahan lama….[]

Page 3 of 403

Kontak

Telp. 022-7565929
email. library@ittelkom.ac.id

Web : digilib.ittelkom.ac.id