login

Link

Advertise
 
Advertise
 
Advertise

Ensiklopedia

Interleaving

  • PDF

Interleaving
Kondisi kanal multipath menyebabkan sinyal yang ditransmisikan melewati dua atau lebih jalur dengan jarak yang berbeda. Jarak tempuh sinyal yang berbeda-beda ini menyebabkan pergeseran fasa pada sinyal terima. Pada penerima sinyal-sinyal multipath ini nantinya akan saling dijumlahkan. Dikarenakan pergeseran fasa yang terjadi pada sinyal-sinyal multipath, akan menyebabkan hasil penjumlahan sinyal di penerima menjadi sinyal terdistorsi, dimana distorsi ini akan mengakibatkan terjadinya error pada data terima baik random error maupun burst error.

Time diversity atau interleaving adalah salah satu cara yang efektif untuk mengatasi burst error. Penerapan interleaving di pengirim dan deinterleaving di penerima, menyebabkan pola burst error disebar dalam domain waktu, dimana pada decoder akan dianggap sebagai pola error yang random. Ide dibalik Interleaving adalah untuk memisahkan simbol-simbol data terkode dalam domain waktu. Penghalangan waktu tersebut diisi oleh simbol-simbol dari data terkode lain.

Simbol-simbol terkode dari encoder akan diterima dalam blok-blok oleh sebuah block interleaver, selanjutnya simbol-simbol tersebut akan diurutkan, kemudian simbol-simbol tersusun tersebut akan diisikan ke dalam modulator. Pengurutan yang dilakukan adalah dengan mengisi deretan terkode pada kolom-kolom dari susunan M baris dan N kolom. Data terkode sejumlah M pertama akan menempati kolom pertama, dan untuk data ke-(M+1) sampai dengan data ke-(2M) menempati kolom kedua, dan begitu seterusnya sampai semua baris dan kolom terisi semua. Setelah itu, data akan dibaca per baris pada satu waktu untuk selanjutnya diterima oleh modulator dan akan dikirim ke kanal setelah dimodulasi.

 



Sumber:
ANALISIS KINERJA SISTEM MC-CDMA DENGAN Q-MODIFICATION
Nur Alfatah Maulana (111070285)
Library IT TELKOM Bandung

Konsep Dasar HSDPA

  • PDF

Konsep Dasar HSDPA
High Speed Downlink Packet Access (HSDPA) adalah suatu teknologi dalam sistem telekomunikasi bergerak yang dikeluarkan oleh 3GPP Release 5 dan merupakan teknologi generasi 3,5. Teknologi HSDPA merupakan pengembangan dari WCDMA, sama halnya dengan CDMA 2000 yang mengembangkan EV-DO ini didesain untuk meningkatkan kecepatan transfer data. HSDPA mampu menghasilkan delay yang rendah dan kapasitas besar serta dapat memberikan data rate yang tinggi hingga 14,4 Mbps. Kemampuan ini diperoleh dengan menambahkan kanal baru pada layer fisik, implementasi Adaptive Modulation and Coding (AMC), Hybrid Automatic Repeat Request (HARQ), Fast Scheduling, dan Fast Cell Selection pada platform WCDMA. HSDPA mempunyai bandwidth 5 MHz pada WCDMA downlink.

Beberapa kelebihan dari HSDPA, yaitu:

  1. Adaptive Modulation And Coding (AMC)
  2. AMC merupakan teknologi utama pada HSDPA sebagai suatu bentuk link adaption dimana feedback dari UE digunakan untuk menentukan skema coding dan modulasi yang akan digunakan berdasarkan CQI (Channel Quality Indicator). Semakin baik kualitas channel, maka user dapat menggunakan orde modulasi dan coding rate yang lebih tinggi. Sebaliknya, apabila kondisi channel kurang baik, maka digunakan modulasi dan coding rate yang lebih rendah. Proses ini dilakukan untuk setiap TTI dengan tujuan untuk memaksimalkan data rate dari UE dengan kondisi kanal yang baik. Modulasi pada HS-DSCH dilakukan secara adaptif dengan pemilihan modulasi QPSK (Quadrature Phase Shift Keying) atau 16 QAM (Quadrature Amplitude Modulation). User dengan kondisi kanal yang baik (umumnya terjadi pada user yang berada dekat dengan node B), dapat menggunakan modulasi 16 QAM yang akan menghasilkan throughput yang lebih tinggi. Sedangkan user dengan kondisi kanal yang kurang baik akan menggunakan jenis modulasi QPSK. Penggunaan 16 QAM untuk daerah yang berada di dekat node B atau pada UE dengan kondisi kanal yang lebih bagus dikarenakan karena 16 QAM memiliki tingkat robustness yang rendah terhadap noise/interference. Pemilihan modulasi 16 QAM atau QPSK pada arah downlink akan bergantung pada CQI yang dikirimkan masing masing UE ke Node B melalui uplink control channel (HS-DPCCH).
  3. Transmission Time Interval yang Singkat
  4. Jaringan 3G menggunakan TTI 10 ms, 20 ms, atau 40 ms pada arah downlink. Dengan HSDPA, TTI dipersingkat menjadi 2 ms saja. Sandi kanal selalu tersedia kembali secara dinamis setiap 2 ms, atau 500 kali/detik. TTI yang singkat akan menguangi waktu round-trip dan meningkatkan kemampuan pendeteksian perubahan kanal.
  5. Hybrid Automatic Repeat and Request (HARQ)
  6. HARQ meningkatkan performansi dan menambah ketahanan terhadap error pada link adaptation. Jika suatu blok data diterima dengan benar maka penerima akan memberi balasan dengan mengirimkan acknowledgement (ACK) melalui HS-DPCCH sebagai tanda bahwa blok data diterima dengan benar, dan menandakan bahwa blok data berikutnya dapat dikirimkan. Tetapi jika paket data yang diterima mengalami error maka akan dikirimkan NACK sebagai tanda bahwa paket data yang diterima mengalami error dan meminta paket data dikirim ulang. Dalam penambahannya, mekanisme untuk HARQ di HSDPA dilakukan di Node B (dari sebelumnya di RNC untuk R99). Dengan menggunakan beberapa pendekatan ini, semua user baik dekat atau jauh dari base station dapat menerima proses pengiriman yang optimum.
  7. Handover (fast cell selection)
  8. Perpindahan UE antarsel pada sistem CDMA pada umumnya menggunakan prosedur soft handover. Akan tetapi HSDPA menggunakan cara yang lebih cepat dengan hard handover dengan teknologi yang disebut FCS (Fast Cell Selection). FCS bekerja dengan memantau level SIR seluruh Node B dalam jangkauan UE lalu diarahkan pada Node B yang dapat memberikan SIR lebih tinggi (power CPICH yang lebih tinggi). Aktivitas downlink hanya dapat dilakukan pada satu Node B. Jika terdapat Node B yang memberikan level SIR yang lebih tinggi pada daerah perpindahan, seharusnya RNC yang bertanggung jawab melakukan proses handover. Dengan FCS, maka dilakukan internode handover ke Node B yang baru. Hal ini bertujuan untuk menurunkan delay dalam prosedur handover.

 



Sumber:
Perancangan Coverage Area HSDPA Indoor di Gedung Politeknik Telkom
Sandi Azmi Firdaus (111081140)
Library IT TELKOM Bandung

Adaptive Modulation and Coding

  • PDF

Adaptive Modulation and Coding
Prinsip dari AMC adalah pengubahan skema modulasi yang sesuai dengan kondisi kanal saat itu, biasanya parameter yang digunakan adalah nilai Eb/No. Misalnya jika kondisi kanal sedang buruk atau nilai Eb/No yang rendah, maka skema modulasi yang rendah dengan code rate yang rendah yang akan digunakan (Sesuai pasangan coding yang digunakan). Sejalan dengan perubahan kanal, apabila kondisi kanal baik dengan pengaruh fading yang kecil, maka skema modulasi yang lebih tinggi yang digunakan (Misal 16QAM+CC1/2+RS) sehingga akan memberikan performansi yang lebih baik pada sistem, dan demikian seterusnya.

Saat ini komunikasi radio wireless yang cepat dan reliable sangat dibutuhkan dan spektrum radio pun semakin berkembang menjadi lebih padat sebagai konsekuensi meningkatnya kebutuhan ini. Pada sistem adaptif variasi laju data disuaikan dengan kondisi kanal. Jika kanal dalam kondisi buruk maka laju data diturunkan, jika kondisi kanal lebih baik mencapai threshold maka laju dinaikan

 



Sumber:
ANALISIS PENGARUH ADAPTIVE MODULATION AND CODING (AMC) TERHADAP PERFORMANSI SISTEM BROADBAND WIRELESS WiMAX 802.16e
DWI AGUNG NUGROHO (111080028)
Library IT TELKOM Bandung

Adaptive MIMO Switch (AMS)

  • PDF

Adaptive MIMO Switch (AMS)
Teknik Adaptive MIMO Switching (AMS) adalah suatu metode yang dapat menyesuaikan tipe MIMO pada saat transmisi. Penyesuaian tipe MIMO ini berdasarkan kondisi kanal saat proses transmisi. Pada saat kondisi kanal sedang bagus, tipe MIMO dengan data rate tinggi seperti MIMO Spatial Multiplexing (SM) dapat digunakan. Akan tetapi, untuk mendapatkan kehandalan transmisi pada saat kondisi kanal sedang buruk, dapat disesuaikan dengan tipe MIMO Space Time Block Code (STBC).

MIMO spatial multiplexing dapat memberikan kapasitas yang lebih besar dengan multiplexing gain. Sedangkan MIMO STBC memiliki kehandalan proses transmisi dengan diversity gain, data dikirimkan dengan replika data asli. Oleh karena itu, trade off untuk mendapatkan data rate tinggi dan transmisi yang handal harus dilakukan. Proses yang dilakukan adalah berdasarkan referensi dengan beberapa penyesuaian. Estimasi kualitas kanal, memilih parameter yang tepat untuk transmisi selanjutnya, dan signaling parameter yang dipakai.

 



Sumber:
ANALISIS KINERJA PENGGUNAAN TEKNIK MODULASI ADAPTIF DAN MIMO ADAPTIF PADA LTE ARAH UPLINK DENGAN BERBAGAI KECEPATAN USER
HENDRA HERDIANA SOPANDI (111080029)
Library IT TELKOM Bandung

Algoritma Nazief dan Adriani

  • PDF

Algoritma Nazief dan Adriani
Algoritma ini merupakan algoritma stemming yang dikembangkan oleh Bobby Nazief dan Mirna Adriani pada tahun 1996 sebagai hasil penelitian internal Universitas Indonesia. Dengan menggabungkan metode pemotongan imbuhan serta pencarian kamus yang terdiri atas kata dasar, algoritma ini menghasilkan tingkat akurasi stemming pada teks bahasa Indonesia yang lebih tinggi dibandingkan algoritma Porter[1].

Proses stemming ini dilakukan dengan cara memotong imbuhan yang dilakukan secara rekursif. Serta mencari kata didalam kamus yang dilakukan sebelum tahap pemotongan. Kelemahan dari algoritma ini diantaranya tingkat akurasinya tergantung dari kamus yang dimiliki.

Adapun algoritma stemming Bahasa Indonesia yang dikembangkan oleh ini memiliki tahapan sebagai berikut[1]:

  1. Cari kata yang akan distem dalam kamus. Jika ditemukan maka kata tesebut dianggap root word dan algoritma pun berhenti.
  2. Hapus Inflection Suffixes (“-lah”, “-kah”, “-ku”, “-mu”, atau “-nya”). Jika imbuhan yang dihapus berupa particles (“-lah”, “-kah”, dan “-tah” ) maka langkah ini diulangi lagi untuk menghapus Possesive Pronouns (“-ku”, “-mu”, atau “-nya”). Contohnya, kata “mobilnyakah” akan dipotong menjadi “mobilnya” untuk menghilangkan particle, lalu dipotong kembali possessive pronoun-nya menjadi “mobil” yang merupakan kata dasar yang valid.
  3. Hapus Derivation Suffixes (“-i”, “-an” atau “-kan”). Jika kata tersebut kemudian ditemukan di kamus, maka algoritma berhenti. Jika tidak ada, maka ke langkah 3a
    1. Jika telah terjadi penghapusan imbuhan “-an” dan huruf terakhir dari kata tersebut adalah “-k”, maka huruf “-k” juga ikut dihapus. Jika kata tersebut ditemukan dalam kamus maka algoritma berhenti. Jika tidak ditemukan maka lakukan langkah 3b.
    2. Akhiran Derivation Suffixes yang telah dihapus dikembalikan dan lanjut ke langkah 4.
    Misalnya terdapat kata “merusakkan” akan dipotong menjadi kata “merusak”, karena kata tersebut belum merupakan kata dasar maka akan memasuki langkah berikutnya.
  4. Hapus Derivation Prefix. Jika pada langkah 3 ada sufiks yang dihapus maka pergi ke langkah 4.a, jika tidak pergi ke langkah 4.b.
    1. Ada beberapa hal yang akan menyebabkan algoritma berhenti: jika prefiks kata membentuk kombinasi awalan-akhiran yang tidak diijinkan, jika imbuhan awal yang ditemukan identik dengan imbuhan awal yang sebelumnya atau telah dilakukan pemotongan imbuhan tiga kali. Ada pun kombinasi awalan-akhiran yang tidak diijinkan ditunjukkan oleh table 2.1.
    2. Tentukan tipe awalan. Imbuhan awal terdiri atas dua jenis: Awalannya sederhana: “di-”, “ke-”, atau “se-” yang dapat dihapus dengan langsung. Awalannya kompleks: “te-”, “me-”, “be-”, atau “pe-” membutuhkan sebuah proses tambahan untuk menentukan tipe awalannya, yang dapat dilihat pada tabel 2.2. Misalnya untuk kata “memperluas”, pertama kita hapus imbuhan “mem-“ menjadi “perluas”, kemudian diulang lagi menjadi “luas”.
  5. Untuk beberapa imbuhan Derivation Prefix, terdapat huruf-huruf tertentu yang mengawali kata tersebut. Karena itu dilakukan proses Recoding. Misal terdapat kata “penyendiri”, pemotongan imbuhan “peny-“ akan menyisakan “endiri” yang bukan merupakan kata dasar. Karena itu berdasarkan Rule 33 diberi huruf “s-” menjadi “sendiri” yang merupakan kata dasar yang valid.
  6. Jika semua langkah telah selesai tetapi tidak juga berhasil maka kata awal diasumsikan sebagai root word dan kata tersebut dikembalikan semula.

 



Sumber:
Implementasi dan Optimasi Algoritma Nazief dan Adriani Untuk Stemming Dokumen Bahasa Indonesia
Shandy Ardiansyah Abdurrasyid (113080245)
Library IT TELKOM Bandung

More Articles...

Page 1 of 248

Kontak

Telp. 022-7565929
email. library@ittelkom.ac.id

Web : digilib.ittelkom.ac.id