login

Link

Advertise
 
Advertise
 
Advertise
Detail TA PA
USULAN TARIF LAYANAN MRI ( MAGNETIC RESONANCE IMAGING ) DENGAN METODE COST BASED PRICING DENGAN MEMPERTIMBANGKAN DEMAND PRICING DAN COMPETITOR PRICING PADA INSTALASI RADIODIAGNOSTIK RSU Dr. SOETOMO SURABAYA
112020094
ALIFFAH SAGITA
Periode I
2007
Hit : 929
 


Abstrak


Teknologi yang semakin berkembang dan masyarakat yang semakin menyadari akan pentingnya kesehatan menyebabkan masyarakat mengharapkan tingkat ketelitian diagnosa dan kecepatan penanganan pelayanan di bidang medik karena akan berpengaruh terhadap kecepatan penyembuhan penyakit pada penderita. Oleh sebab itu, Instalasi Radiodiagnostik RSU Dr. Soetomo Surabaya melakukan pembenahan sarana dan prasarana. Salah satunya yaitu dengan menambah fasilitas penunjang diagnostik yaitu

Dalam membuat suatu usulan tarif layanan, dimulai dengan mengumpulkan data biaya investasi dan biaya operasional untuk mengetahui besarnya biaya produksi. Biaya produksi tersebut dibagi dengan hasil peramalan jumlah pasien untuk mendapatkan

Dari hasil pengolahan data didapat biaya per unit untuk layanan tanpa kontras yaitu : Kelas III Rp 637.048,20; Kelas II Rp 1.212.595,68; Kelas I Rp 1.212.595,68; Kelas Utama Rp 1.330.302,68 dan untuk layanan dengan kontras : Kelas III Rp 938.096,76; Kelas II Rp 1.513.644,24; Kelas I Rp 1.513.644,24; Kelas Utama Rp 1.631.351,24. Sedangkan tarif layanan yang sebaiknya ditetapkan oleh pihak rumah sakit untuk layanan

Setelah tarif yang baru diberlakukan, subsidi silang diubah formatnya berupa peghilangan beban depresiasi alat untuk Kelas III dan subsidi untuk biaya depresiasi, biaya

MRI (Magnetic Resonance Imaging) pada tahun 1999. Dalam menentukan tarif layanan, pihak rumah sakit selalu mengacu pada Peraturan Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur Nomor 7 Tahun 1998 tentang Retribusi Layanan Kesehatan di Rumah Sakit Daerah yang Dikuasai oleh Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur. Namun, pada saat peraturan tersebut disahkan, pihak rumah sakit belum memiliki layanan MRI sehingga ketika alat MRI tersedia pada tahun 1999, Kepala Instalasi Radiologi Dr. Soetomo dibantu oleh stafnya membuat rancangan tarif MRI. Tarif layanan MRI diperbarui pada tahun 2003 dengan format yang sama dengan tahun sebelumnya yaitu biaya untuk jasa sarana berdasarkan kebutuhan operasional sedangkan biaya untuk jasa pelayanan maksimum 40% dari biaya per unit (jasa sarana). Namun dalam kenyataannya, besarnya jasa pelayanan ada yang melebihi 40% dari jasa sarana. Penetapan tarif tersebut juga terlihat kurang terencana dengan baik karena pihak rumah sakit melakukan pemotongan unit cost untuk kelas III dan kelas II tanpa kontras dan kelas III dengan kontras tanpa ada ketentuan yang jelas. Potongan tersebut dibebankan terhadap kelas – kelas selain yang telah disebutkan sebelumnya. Selain itu, dengan adanya Strategic Action Plan RSU Dr. Soetomo untuk tahun 2006 – 2010 dan untuk melakukan penataan kembali tarif yang lebih baik serta adanya kenaikan BBM pada tahun 2005 yang menyebabkan kenaikan harga beberapa bahan produksi, maka dikeluarkanlah Kebijakan Dasar Penghitungan Unit Cost Tarif Pelayanan di RSU Dr. Soetomo oleh Direktur RSU Dr. Soetomo sehingga diperlukan pengkajian kembali tentang penentuan tarif layanan MRI yang sesuai berdasarkan biaya produksi, kemampuan masyarakat untuk membayar, dan mampu bersaing dengan rumah sakit/laboratorium yang lain. unit cost yang akan digunakan untuk mengetahui besarnya tarif berdasarkan Metode Cost Based Pricing. Usulan tarif ini nantinya akan digabungkan dengan Metode Demand Based Pricing, dan Competitor Based Pricing serta keuntungan yang diinginkan oleh pihak rumah sakit dengan mempertimbangkan kebijakan yang berlaku. MRI tanpa kontras : Kelas III Rp 765.000,00; Kelas II Rp 1.460.000,00; Kelas I Rp 1.580.000,00; Kelas Utama Rp 1.690.000,00 dan untuk layanan dengan kontras : Kelas III Rp 1.130.000,00; Kelas II Rp 1.820.000,00; Kelas I Rp 1.970.000,00; Kelas Utama Rp 2.125.000,00. linen, dan biaya telepon akan dialihkan penggunaannya untuk membeli alat medis yang lain.

 

 



Kata Kunci : layanan MRI, tarif, kontras, Kelas III, Kelas II, Kelas I, Kelas Utama.
 


Abstract


Technology that grows quickly and people whom more conscious the healthiness, makes the people expecting the carefulness of diagnoses and also the response of the medical service, which is related to the healing time of the patient. Therefore, the radio diagnostic unit of Dr. Soetomo Surabaya Hospital restores its infrastructure and equipment. One of these activities was adding MRI (Magnetic Resonance Imaging) at 1999. In deciding the price, the hospital always uses reference. That is "

To make a considerable price draft, the first step is collecting the information about investment cost and the information about operational cost. This information used to calculate the cost of production. This cost of production divided with the result of patient’s forecast. This calculation is used to get unit cost

According to the result, unit cost for MRI service without "

After these prices legalized, the format of the "cross subsidy" has changed in to the elimination of depreciation cost for 3rd class and subsidy for depreciation, linen cost, and telephone cost will be changed in to the purchase of the other medical equipment.

Peraturan Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur Nomor 7 Tahun 1998" about "Retribusi Layanan Kesehatan di Rumah Sakit Daerah yang Dikuasai oleh Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur." But, when the rule was stated, the hospital didn’t have MRI service yet. So that, the Head of Dr. Soetomo Hospital’s radio diagnostic was helped of his staff made the draft of MRI price. This price was renewed at 2003 with the same format last year. The cost for the equipment is taken from the operational cost, while the cost for service is taken maximum 40% from cost per unit (cost of equipment). But in the implementation, some of service’s cost is over from the certainty. That certainty of this price reflects that it’s not well planned. The hospital reduce the unit cost of MRI service without "kontras" for 3rd class and 2nd class and the unit cost of MRI service with "kontras" for 3rd class without clear certainty. This price reduction must be paid by the other classes. Otherwise, because of Strategic Action Plan Dr. Soetomo Hospital from 2006 until 2010 and make the price re - calculation and because of BBM’s price rose at 2005. The rose of BBM’s price impact to the rise of others goods price. So, the Head of Dr. Soetomo Hospital publish "Kebijakan Dasar Penghitungan Unit Cost Tarif Pelayanan di RSU Dr. Soetomo." So that, it needs a re – calculation about certainty of appropriate MRI service price based on Cost Based Pricing, Demand Based Pricing, and Competitor Based Pricing. . And the unit cost is used to know the service price based on Cost Based Pricing. The recommendation of that price will be combined with Demand Based Pricing and Competitor Based Pricing, and the profit that expected by the hospital and it must consider the decision made by Dr. Soetomo Hospital. Meanwhile, the existing price is used to identify the problem that happen in the existing management, so we can solve the problem. So, the solution can be used by the next management. kontras" are 3rd class is Rp 637.048,20; 2nd class is Rp 1.212.595,68; 1st class is Rp 1.212.595,68; VIP class is Rp 1.330.302,68 and for MRI service with "kontras" are 3rd class is Rp 938.096,76; 2nd class is Rp 1.513.644,24; 1st class is Rp 1.513.644,24; VIP class is Rp 1.631.351,24. And the MRI service price that is as well as decided by the hospital for MRI service without "kontras" are 3rd class is Rp 765.000,00; 2nd class is Rp 1.460.000,00; 1st class is Rp 1.580.000,00; VIP class is Rp 1.690.000,00 and for MRI service with "kontras" are 3rd class is Rp 1.130.000,00; 2nd class is Rp 1.820.000,00; 1st class is Rp 1.970.000,00; VIP class is Rp 2.125.000,00.

 

 



Keywords : MRI, price, kontras, 3rd class, 2nd class, 1st class, VIP class.